: D to D
Telah lama kau biarkan rasa ini tergantung
Berapa banyak sabar tak bisa lagi ku hitung
Karena semakin lama rasa ini akan menghujam jantung
Aku butuh kepastian namun kau tetap diam mematung
Hatiku bukanlah tempat kau bisa menitipkan rasa, yang kemudian tiba-tiba kau rampas lalu pergi begitu saja
Hatiku lebih dari sekedar itu
Hatiku tak sekeras batu yang kuat terhantam kenyataan bahwa kita tak bisa menyatu
Kau tahu? Senyum yang tersungging di bibirku ini hanyalah tempat sembunyi dari rasa khawatir yang begitu getir,
rasa takut kehilangan yang kerap mengusik pikiran menerobos dalam angan
Coba lihat dirimu! Kau mengharapkan
kepekaan sedangkan kau tak bisa memberi
kepastian
Dan satu-satunya yang kau sajikan hanyalah penantian
Aku bahkan sudah lebih dari apa yang kau sebut peka
Sekian lama tergesek waktu yang mengkaryakan sekian banyak luka
Namun aku tetap bertahan melontarkan senyuman penyampul duka
Andai kau tahu, setiap hari teman-temanku dipenuhi dengan cerita-cerita yang tokoh utamanya adalah kita
Aku selalu menceritakan tentang kita walau mereka tak pernah meminta
Ini semua hanya karena satu kata, apa lagi kalau bukan
Cinta
Namun kadang sakit memang sering kembali terungkit
Mengetahui kau yang akan pergi, dan aku akan siap menerima luka yang akan tergores di setiap awal pagi
Sebentar lagi kita tak akan bisa menatap senja bersama
Mencoret tepi pantai mengukir sebuah nama
Tak bisa lagi berlari sore seirama
Namun seperti yang kau bilang, kita masih bisa memandang langit yang sama
Tapi, apa artinya semua perhatianmu tanpa ada balas rasa
Apa artinya kebersamaan kita jika mulutmu tetap bisu tak mengungkapkan cinta
Aku tahu cinta itu tak kasat mata
Tapi setidaknya beri aku kepastian bukan hanya kenangan manis semata
Atau memang setega itukah hatimu ?
Membiarkan rasa ku menanti tak kau gubris
Tergantung! Tersayat! Teriris!
Dengan semua kenangan manis yang kau lukis
Sadis! Jangan kau anggap semua kebersamaan kita hanya sebagai pemanis
Pengantar kepergianmu yang tak kurelakan dalam isak tangis
Sumbawa, 2015