Entah kenapa, jam-jam segini mataku seolah jauh dari rasa kantuk, seperti asing dari kata lelap.
Jam-jam segini, aku bisa tiba-tiba saja menemukan rindu, entah itu di antara beberapa judul buku puisi yang teratur dengan tidak baik di rak, atau pada tik-tok jam dinding yang terdengar begitu keras menandakan malam telah benar-benar sepi, atau bahkan pada sepasang kelopak mataku--seperti saat ini.
Dan tidak asing, sebab yang kutemukan selalu rindu yang sama. Rindu yang aku dan mataku kenal sebagai kamu.
Iya, benar, jam-jam segini memang waktuku merindukanmu. Dan barangkali rindu adalah salah satu alasan mengapa Tuhan menurunkan sepi yang begitu sempurna di muka bumi dan pada jeda detak jantung langit; malam dan pagi.
Entah kenapa, merindukanmu di jam-jam segini seolah membuat malam menjadi lebih panjang. Tuhan seakan-akan meletakkan pagi sedikit lebih jauh, agar aku dan mataku bisa mengingatmu lebih utuh.
Dan saat pagi tiba, di tepi ranjangku, aku akan menemukan (lagi) seseorang yang kemarin, yang merindukanmu dari malam yang panjang menuju pagi yang jauh.
Sumbawa, 2016

0 komentar:
Posting Komentar