Dulu waktu sekolah
Aku tidak punya banyak kawan
Ada, hanya beberapa
Tapi
Meski jumlah mereka tidak lebih banyak dari hitungan jari
Mereka tidak pernah kurang untukku
Selalu buat aku merasa cukup
Dengan segala kesederhanaan
Dan segila keleluconan
Ketika jam kosong
Atau istirahat
Kami sering menyusuri
Lorong-lorong kelas yang sepi dan sempit
Untuk akhirnya sampai ke perpustakaan
Melepas sepasang sepatu
Lalu mengisi daftar pengunjung
Satu per satu
Duduk di dekat jendela
Yang menghadap langsung ke sebuah kotak pasir
Dan kami mulai membaca satu sama lain
Halaman per halaman
Dari tubuh masing-masing
Ketika bel masuk berbunyi
Kami memberi penanda halaman
Di kening sendiri
Lalu memakai sepatu
Kembali ke kelas
Suatu saat
Aku tiba-tiba jatuh sakit
Sakit yang membuat aku tak bisa ke sekolah berhari-hari
Lalu kawan-kawanku yang tidak lebih banyak dari hitungan jari ini
Datang ke rumah
Hendak menjengukku
Mereka datang dengan tangan kosong
Tapi mulut mereka menggembung
Oleh doa
Satu per satu
Doa itu mereka kecupkan
Ke kening, sepasang lengan, dada, punggung, dan di ke dua tulang keringku
Yang terbaring lemah di ranjang
Setelah itu keadaanku pun berangsur membaik
Hingga pulih
Dan sehat kembali
Esokan harinya
Aku bisa kembali ke sekolah
Seperti biasa
Saat jam istirahat
Aku menyusuri lorong-lorong itu
Melepas sepatu
Mengisi daftar pengunjung
Duduk di dekat jendela
Dan mulai membaca
Ada banyak judul-judul baru
Dalam diriku
Sumbawa, 2016

0 komentar:
Posting Komentar