Banyak orang menganggap, hujan adalah pembangkit kenangan nomor satu. Entah itu jatuhnya pagi, siang, sore, atau malam, ia selalu mampu mengoar, menggali, membongkar, lalu menerobos ingatan kita.
Dan dengan tiba-tiba, potongan-potongan ingatan -yang bahkan mungkin sudah hampir kita lupakan- terlihat melayang-layang di dalam kepala.
Lalu di disinilah saatnya, kita akan terdiam cukup lama sambil terus mengingat-ingat. Suara bulir-bulir hujan yang jatuh di atap, di ranting-ranting pohon, di kaca dan bingkai jendela, semakin menajamkan ingatan kita. Dan aroma tanah yang menyeruak, menyelinap masuk di hidung kita, oh sungguh membuat kita betah berlama-lama dengan semua ingatan-ingatan itu.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dada dan di sekitar ulu hati kita akan mulai terasa sesak, lalu dengan spontan kita akan menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. Kita akan melakukannya beberapa kali, berharap sesaknya akan berkurang dan hilang.
Tapi nyatanya tidak, tidak sama sekali. Malah menjadi makin parah. Rasa sesak tadi akan mulai menguap, naik ke atas dan membuat bagian belakang mata kita terasa panas.
Tanpa diperintah, air mata seperti sudah membuat jalurnya sendiri di kedua pipi. Jatuh. Ngalir. Tanpa muara.
Bila sudah seperti itu, biasanya tidur akan menjadi pilihan. Membenamkan kesedihan di antara bantal-bantal yang tak jarang kuyup oleh air mata. Lalu tanpa sadar kita akan terlelap dengan sendirinya, di antara alunan suara hujan yang membuat tidur kita jadi lebih lelap dan terasa panjang.
Saat kita terbangun, dengan mata sembab dan bantal-bantal yang sudah sedikit kering. Akan ada rasa lega di dada, yang entah datangnya dari mana.
Entah kenapa, selalu seperti itu. Membuat kita kembali merasa siap, untuk melewati hujan berikutnya.
Sumbawa, 2016

0 komentar:
Posting Komentar