Rabu, 14 September 2016

Kupu-Kupu Pengenyam Malam


Kupu-kupu pengenyam malamTerbang dan hinggap
Dari satu pelukan ke lain dekapan
Dari sebuas nafsu ke sebejat berahi
Dari sepasang mata ke seliar tatapan

Pada kepakan sayapnya yang lirih
Meredam segala pedih perih

Tak peduli lebah pun kumbang
Cengkerik pun belalang
Ia layani sepenuh hati
Tergerogoti dalam senyap
Sayap yang warnanya kian mati

Karena tak lagi ia hirau indah warna sayapnya
Hilang, biar hilang
Terpenting tak melompong lambung anaknya yang malang
Terpenting tak lengang senyum dari bibir anaknya sayang

Luka mengepak bisu
Duka menghinggap kaku

Seperti dipedaya angin
Hingga terdorong begitu saja tak kuasa melawan ingin
Dan kini sudah terlalu jauh angin membawanya terbang
Tersesat, masuk pada gang-gang pekat
Yang bahkan tak pernah ingin ia lewati pun sekadar ia jumpai

Di bawah terik lampu jalan
Ia menghitung-hitung lembaran
Yang pada tiap nominalnya tersisipkan harapan

Fajar pun menggeser bulan

Pada perjalanan pulang
Ia sibuk menghapus gincu dan bedak dari raut wajah
Mengganti pakaian seksi dengan yang sewajarnya
Karena tak ingin anaknya curiga
Dari mana induknya memanen rupiah


Sumbawa, 2015

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
aku (masih) manusia dan aku cadel