Pada saat itu, aku melihat Tuan masih memakai sepasang sepatu tua, kaos
oblong hitam bertuliskan 'Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi', dan
sebuah newsboy cap berwarna abu-abu yang sepertinya sangat nyaman di
kepala Tuan.
Aku menyeruput hujan bulan juni beberapa
kali, ternyata rasanya amat dalam dan sunyi, lalu aku bertanya, "Tuan,
mana di antara karya-karyamu yang paling bagus?", dan Tuan menjawab,
"Karyaku yang paling bagus adalah yang belum pernah kuciptakan".
Aku begitu kagum pada karya-karya Tuan, yang telah tercipta pun yang belum tercipta.
Aku begitu kagum pada Tuan, di dalam berkarya, Tuan tak pernah tua, malah mengabadi dalam buku-buku dan puisi, atau mungkinkah tulang dan kulit Tuan telah sekian lama Tuan gantikan dengan sajak-sajak? Sebab sajak tak pernah mati.
Aku begitu kagum pada Tuan, di dalam berkarya, Tuan tak pernah tua, malah mengabadi dalam buku-buku dan puisi, atau mungkinkah tulang dan kulit Tuan telah sekian lama Tuan gantikan dengan sajak-sajak? Sebab sajak tak pernah mati.
Tuan, meski aku begitu mengidolakanmu, aku tak pernah ingin sepertimu,
sama sekali tak ingin, sebab bagiku, Tuan hanya selalu ada satu, di
buku, di puisi, pun di hati.
Mungkin aku akan lebih ingin menjadi seperti Si Joko , yang amat
mengagumimu lalu akhirnya bisa bertemu langsung denganmu. Aku ingin
seperti itu. Amat ingin.
Semoga nanti, aku bisa bertemu Tuan, bukan di buku atau puisi, juga bukan di mimpi, tapi di sebuah meja dengan dua cangkir kopi.
dan terimakasih Tuan, atas segala karya-karyamu.
Sumbawa, 2015
Sumbawa, 2015

0 komentar:
Posting Komentar