/1/
Suatu saat nanti. Mau tidak mau. Kau akan kembali mengingatku.
Dan bila saat itu tiba, peganglah dada kirimu, bila kau rasa debar lebih keras dari biasanya, maka selamat! Kini kau memiliki debar dadaku -yang telah lama kutinggalkan jauh-jauh- untukmu.
/2/
Suatu saat nanti. Terima tidak terima. Kau akan kembali menemukanku, di antara hal-hal yang sebelumnya selalu saja luput dari matamu. Kau tahu! Karena sebenarnya aku tidak pernah sembunyi, hanya kau dan hatimu saja yang dengan sengaja terlalu sering melewatkanku.
/3/
Suatu saat nanti. Mengerti tidak mengerti. Kau akan kembali merindukanku. Dan bila saat itu tiba, jangan coba untuk mencari atau menghubungiku, tidak akan bisa seperti itu. Cukuplah dengan doa, yang di antaranya kauselipkan sesalmu. Itu akan lebih bijak, dan tentu saja, kau tidak perlu membuang rasa gengsimu.
/4/
Dan sampai nanti suatu saat. Sadar tidak sadar. Kau akan mulai mencari cinta yang lain--yang seperti cintaku. Padahal kau tahu benar, aku dan semua yang ada padaku tidak akan pernah sekalipun kau temukan pada diri orang lain.
Maka,
(sekali lagi)
Selamat.
Sumbawa, 2016
