Jumat, 23 September 2016

Baca Tidak Baca, Ini Untukmu

/1/
Suatu saat nanti. Mau tidak mau. Kau akan kembali mengingatku.
Dan bila saat itu tiba, peganglah dada kirimu, bila kau rasa debar lebih keras dari biasanya, maka selamat! Kini kau memiliki debar dadaku -yang telah lama kutinggalkan jauh-jauh- untukmu.

/2/
Suatu saat nanti. Terima tidak terima. Kau akan kembali menemukanku, di antara hal-hal yang sebelumnya selalu saja luput dari matamu. Kau tahu! Karena sebenarnya aku tidak pernah sembunyi, hanya kau dan hatimu saja yang dengan sengaja terlalu sering melewatkanku.

/3/
Suatu saat nanti. Mengerti tidak mengerti. Kau akan kembali merindukanku. Dan bila saat itu tiba, jangan coba untuk mencari atau menghubungiku, tidak akan bisa seperti itu. Cukuplah dengan doa, yang di antaranya kauselipkan sesalmu. Itu akan lebih bijak, dan tentu saja, kau tidak perlu membuang rasa gengsimu.

/4/
Dan sampai nanti suatu saat. Sadar tidak sadar. Kau akan mulai mencari cinta yang lain--yang seperti cintaku. Padahal kau tahu benar, aku dan semua yang ada padaku tidak akan pernah sekalipun kau temukan pada diri orang lain.

Maka,
(sekali lagi)
Selamat.

Sumbawa, 2016

Rabu, 21 September 2016

Hujan dan Potongan-Potongan Ingatan

Banyak orang menganggap, hujan adalah pembangkit kenangan nomor satu. Entah itu jatuhnya pagi, siang, sore, atau malam, ia selalu mampu mengoar, menggali, membongkar, lalu menerobos ingatan kita.

Dan dengan tiba-tiba, potongan-potongan ingatan -yang bahkan mungkin sudah hampir kita lupakan- terlihat melayang-layang di dalam kepala.

Lalu di disinilah saatnya, kita akan terdiam cukup lama sambil terus mengingat-ingat. Suara bulir-bulir hujan yang jatuh di atap, di ranting-ranting pohon, di kaca dan bingkai jendela, semakin menajamkan ingatan kita. Dan aroma tanah yang menyeruak, menyelinap masuk di hidung kita, oh sungguh membuat kita betah berlama-lama dengan semua ingatan-ingatan itu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dada dan di sekitar ulu hati kita akan mulai terasa sesak, lalu dengan spontan kita akan menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. Kita akan melakukannya beberapa kali, berharap sesaknya akan berkurang dan hilang.

Tapi nyatanya tidak, tidak sama sekali. Malah menjadi makin parah. Rasa sesak tadi akan mulai menguap, naik ke atas dan membuat bagian belakang mata kita terasa panas.

Tanpa diperintah, air mata seperti sudah membuat jalurnya sendiri di kedua pipi. Jatuh. Ngalir. Tanpa muara.

Bila sudah seperti itu, biasanya tidur akan menjadi pilihan. Membenamkan kesedihan di antara bantal-bantal yang tak jarang kuyup oleh air mata. Lalu tanpa sadar kita akan terlelap dengan sendirinya, di antara alunan suara hujan yang membuat tidur kita jadi lebih lelap dan terasa panjang.

Saat kita terbangun, dengan mata sembab dan bantal-bantal yang sudah sedikit kering. Akan ada rasa lega di dada, yang entah datangnya dari mana.

Entah kenapa, selalu seperti itu. Membuat kita kembali merasa siap, untuk melewati hujan berikutnya.

Sumbawa, 2016

Senin, 19 September 2016

Sajak Sekar Kepada Kekasih Orang

: W

Aku takkan memanggil kau dengan sebutan kekasih
Sebab tanpa itupun
Telah kukasihi kau melebihi kasih kekasihmu
Selain kaukukasih, kau juga kucintai
Selain kaukucintai, kau juga kudoai
Jadi aku tak butuh panggilan khusus kepada kau yang telah padaku begitu khusus

Namun kelak bila memang harus
Maka 'kan kupanggil kau tulang ekor
Sebab serusuk-rusuknya dia di dadamu
Cintaku tetap tulang ekormu
Dan Tuhan paham, mana di antaranya yang abadi

Sumbawa, 2016

Sebuah Pengingat Waktu Dari Seseorang Yang Tak Lekang Oleh Waktu

Musim berganti musim
Panas jadi dingin
Daun-daun tanggal dari ranting
Tanggal-tanggal gugur di antara dedaun kering

Dan kau, masih saja utuh sebagai ingatan
Entah kenapa, kau seperti memiliki ruang tersendiri di kepalaku
Ruang yang tak pernah bisa disentuh oleh jemari-jemari waktu

Apa kau masih ingat?
Sebuah jam tangan
Yang kaubelikan untukku beberapa hari setelah kau menanyakan apa warna kesukaanku
Atau tepatnya, sehari sebelum kepergianmu.

Untuk sekadar kau tahu
Aku masih sering memakainya, meski fungsinya tak lagi sama
Jam tangan ini tak lagi mengingatkanku dengan waktu
Sebab tiap waktu ia hanya mengingatkanku akan kamu

Namun detak detiknya masih sama
Masih dengan begitu jelas menyimpan kepergianmu
Sedang di antara angka-angka, namamu kian jauh

Dan kini, betapa jauh jarak kotamu ke kotaku
Ada jutaan detik yang berdetak di antaranya
Betapa pendek lengan-lenganku untuk bisa menjangkau punggungmu
Ada ruang kosong dengan angka-angka yang membentang di keduanya

Tapi, kekasih
Atas nama nadiku jam tangan ini terus berdetak
Jarum-jarumnya yakin
Entah pada detak detik ke entah
Di antara angka-angka yang kurang, pas, atau mungkin lewat
Ia yakin, salah satu dari jarumnya akan kembali menemukanmu (lagi)

 Sumbawa, 2016

Minggu, 18 September 2016

Permintaan Dari Kekasih Yang Baik

Aku ingat, waktu itu kau pernah memintaku untuk menjadi sebuah pagi yang dingin.

"Kenapa pagi dan dingin?" tanyaku.

Karena pagi yang dingin akan memberi jarak yang cukup lebar antara kita dengan mandi, dan mendekatkan kita dengan ngopi.

Sebagai kekasih yang baik, aku bersedia.

Lagi pula, sebenarnya aku juga menyukai pagi, terlepas dari dingin atau tidaknya. Dan hal yang paling kusuka dari pagi adalah bangun, lalu menemukan diriku masih mencintaimu seperti kemarin.

Setelah itu kau menanyakan aku ingin kau jadi apa.

Dan aku memintamu untuk menjadi sebuah pohon dengan daun-daun yang basah oleh embun.

"Kenapa pohon dan embun?" tanyamu.

Agar saat aku menjadi pagi yang dingin, kita bisa sama-sama saling mengeja gigil satu sama lain.

Dan kau bersedia, sebab kau juga kekasih yang baik.

Sumbawa, 2016

Jumat, 16 September 2016

03:21

Entah kenapa, jam-jam segini mataku seolah jauh dari rasa kantuk, seperti asing dari kata lelap.

Jam-jam segini, aku bisa tiba-tiba saja menemukan rindu, entah itu di antara beberapa judul buku puisi yang teratur dengan tidak baik di rak, atau pada tik-tok jam dinding yang terdengar begitu keras menandakan malam telah benar-benar sepi, atau bahkan pada sepasang kelopak mataku--seperti saat ini.

Dan tidak asing, sebab yang kutemukan selalu rindu yang sama. Rindu yang aku dan mataku kenal sebagai kamu.

Iya, benar, jam-jam segini memang waktuku merindukanmu. Dan barangkali rindu adalah salah satu alasan mengapa Tuhan menurunkan sepi yang begitu sempurna di muka bumi dan pada jeda detak jantung langit; malam dan pagi.

Entah kenapa, merindukanmu di jam-jam segini seolah membuat malam menjadi lebih panjang. Tuhan seakan-akan meletakkan pagi sedikit lebih jauh, agar aku dan mataku bisa mengingatmu lebih utuh.

Dan saat pagi tiba, di tepi ranjangku, aku akan menemukan (lagi) seseorang yang kemarin, yang merindukanmu dari malam yang panjang menuju pagi yang jauh.

Sumbawa, 2016

Rabu, 14 September 2016

Kupu-Kupu Pengenyam Malam


Kupu-kupu pengenyam malamTerbang dan hinggap
Dari satu pelukan ke lain dekapan
Dari sebuas nafsu ke sebejat berahi
Dari sepasang mata ke seliar tatapan

Pada kepakan sayapnya yang lirih
Meredam segala pedih perih

Tak peduli lebah pun kumbang
Cengkerik pun belalang
Ia layani sepenuh hati
Tergerogoti dalam senyap
Sayap yang warnanya kian mati

Karena tak lagi ia hirau indah warna sayapnya
Hilang, biar hilang
Terpenting tak melompong lambung anaknya yang malang
Terpenting tak lengang senyum dari bibir anaknya sayang

Luka mengepak bisu
Duka menghinggap kaku

Seperti dipedaya angin
Hingga terdorong begitu saja tak kuasa melawan ingin
Dan kini sudah terlalu jauh angin membawanya terbang
Tersesat, masuk pada gang-gang pekat
Yang bahkan tak pernah ingin ia lewati pun sekadar ia jumpai

Di bawah terik lampu jalan
Ia menghitung-hitung lembaran
Yang pada tiap nominalnya tersisipkan harapan

Fajar pun menggeser bulan

Pada perjalanan pulang
Ia sibuk menghapus gincu dan bedak dari raut wajah
Mengganti pakaian seksi dengan yang sewajarnya
Karena tak ingin anaknya curiga
Dari mana induknya memanen rupiah


Sumbawa, 2015

Ajari Aku! Kucing Kecil


Wahai kucing kecil, betapa irinya aku: pada caramu melawan kesepian, pada caramu menciptakan permainan, yang kau bisa asyik memainkannya sendirian, dan pada caramu mengkaryakan sebuah kegembiraan.


Wahai kucing kecil, beritahu aku: bagaima bisa kau tetap riang gembira, saat ibumu tak ada di sampingmu? Bagaimana bisa kau tetap bermain tanpa lelah, di saat semua penghuni rumah terlelap karena lelah? Dan bagaimana bisa kau ciptakan ramaimu sendiri hanya dengan permainan konyolmu?


Wahai kucing kecil, bila kau berkenan ajari aku: cara melawan sepi dengan sebuah kertas yang terbuang, cara tetap merasakan ramai saat sepi coba menikam, dan cara tetap riang meski tanpa Ibu dan seikat senyuman.

Ajari aku, kucing kecil, ajari aku.


Sumbawa, 2015



Untukmu, Masa Lalu

Untukmu masa laluku; terimakasih telah pernah melukis bahagia di setitik putih hidupku
Kenangan kita tak pernah kusesali, karena dengan bahagia kita pernah mengawali

Untukmu masa laluku; senyum dan tawamu enggan beranjak dari benakku
Dan rasaku masih saja mengeja dengan jelas namamu
Goyah langkahku ditinggal pergi jejakmu

Untukmu masa laluku; rinduku masih beralamatkan dirimu
Hambar pundakku tanpa senderan manis kepalamu
Tanpamu, menatap langit jingga tak lagi aku mampu

Untukmu masa laluku; kini bayangmu ada untuk meramu sesak
Di dada, terjejalkan paksa hatiku yang rusak
Tergambar retak, dihempas kecewa terhantam resak

Untukmu masa laluku; maafkan aku yang telah menggurat pipimu dengan air mata
Mengkaryakan luka di hatimu berbahan kasar kata
Penyesalan hadir di ujung cerita
Kini kecewa hanya terus menumpuk berujung derita

Untukmu masa laluku; aku percaya kehendak Tuhan
Bila kita berjodoh, kita akan kembali dipertemukan
Di lain waktu dalam kesempatan, di rasa yang satu dalam kebahagiaan

Untukmu masa laluku; bahagia selalu pantas untukmu


Sumbawa, 2015

Kepekaan dan Kepastian




: D to D

Telah lama kau biarkan rasa ini tergantung
Berapa banyak sabar tak bisa lagi ku hitung
Karena semakin lama rasa ini akan menghujam jantung
Aku butuh kepastian namun kau tetap diam mematung

Hatiku bukanlah tempat kau bisa menitipkan rasa, yang kemudian tiba-tiba kau rampas lalu pergi begitu saja

Hatiku lebih dari sekedar itu
Hatiku tak sekeras batu yang kuat terhantam kenyataan bahwa kita tak bisa menyatu

Kau tahu? Senyum yang tersungging di bibirku ini hanyalah tempat sembunyi dari rasa khawatir yang begitu getir, rasa takut kehilangan yang kerap mengusik pikiran menerobos dalam angan

Coba lihat dirimu! Kau mengharapkan kepekaan sedangkan kau tak bisa memberi kepastian
Dan satu-satunya yang kau sajikan hanyalah penantian

Aku bahkan sudah lebih dari apa yang kau sebut peka
Sekian lama tergesek waktu yang mengkaryakan sekian banyak luka
Namun aku tetap bertahan melontarkan senyuman penyampul duka

Andai kau tahu, setiap hari teman-temanku dipenuhi dengan cerita-cerita yang tokoh utamanya adalah kita
Aku selalu menceritakan tentang kita walau mereka tak pernah meminta
Ini semua hanya karena satu kata, apa lagi kalau bukan Cinta

Namun kadang sakit memang sering kembali terungkit
Mengetahui kau yang akan pergi, dan aku akan siap menerima luka yang akan tergores di setiap awal pagi

Sebentar lagi kita tak akan bisa menatap senja bersama
Mencoret tepi pantai mengukir sebuah nama
Tak bisa lagi berlari sore seirama
Namun seperti yang kau bilang, kita masih bisa memandang langit yang sama

Tapi, apa artinya semua perhatianmu tanpa ada balas rasa
Apa artinya kebersamaan kita jika mulutmu tetap bisu tak mengungkapkan cinta
Aku tahu cinta itu tak kasat mata
Tapi setidaknya beri aku kepastian bukan hanya kenangan manis semata

Atau memang setega itukah hatimu ?
Membiarkan rasa ku menanti tak kau gubris
Tergantung! Tersayat! Teriris!
Dengan semua kenangan manis yang kau lukis
Sadis! Jangan kau anggap semua kebersamaan kita hanya sebagai pemanis
Pengantar kepergianmu yang tak kurelakan dalam isak tangis


Sumbawa, 2015

Selasa, 13 September 2016

Betapa Duka Mencintainya

: L

ia telah lama tak berurusan dengan waktu
"waktu hanya milik mereka yang bersuka" katanya
dari kulit legamnya menjelma matahari
yang berkobar di sekujur tubuhnya
lalu hilang
di lembab tengkuknya

ia telah lama membuat jejak-jejak samar di tanah basah
sementara kedua tangan tak bisa lepas dari luka dan bunga
yang tiap hari mekar di sela-sela jemari
yang tiap hari pula gugur di antara kedua kaki

ia telah lama menyandang gelar hina
kesucian hanya mengingatkan pada sumur tua
saat tak sengaja menimba iblis bermata tiga
yang telah mengoyak habis selongsongnya

ia, betapa duka mencintainya
ia, betapa waktu mengabaikannya


Sumbawa, 2016

Kuingin Aku Saja

 /1/
kuingin aku saja
berjalan pada lorong panjang
yang tetiba lengang di suatu malam
tak seorang pun kuingin peduli
biar bayang berbadan sepi

/2/
kuingin aku saja
menumpahkan duka
di antara runcing kaki-kaki hujan
yang menusuk dua belah mataku
tak seorang pun kuingin berkata
biar samar air mata

/3/
kuingin aku saja
menerka-nerka halimun
yang melindapkan pepohonan di pagi buta
tak seorang pun kuingin tahu
biar gigil tanpa meragu

/4/
kuingin aku saja
memuisikan sepi
pada sepi
tak seorang pun kuingin mengerti
biar sepi terbaca sunyi


Sumbawa, 2016

Kauku

/1/
kauberi alasan untuk tinggal
tapi waktu lebih dulu membawaku
kauberi tempat untuk pulang
tapi jarak telah buat kau aku lebih jauh

/2/
kauku yang tiba-tiba
menjelma mawar luka hatinya
dan tiba-tiba saja duka
menjelma kau di sekujur tubuhnya

/3/
kau aku hanya perkara jarak dan waktu
maka jangan biar bibir lengang dari doa
sebab doa pangkas jarak
dan tak pernah urus dengan waktu

/4/
lalu kauku
menjelma hujan yang basah matanya
air mata
menjelma kau di gema tangisnya

/5/
kauku
akan selalu ada di bibir
menjadi jeda antara harap dan doa


Sumbawa, 2016

Pahlawan Di Antara Pahlawan


Dari kecil aku sangat suka dengan Super Hero. Seperti Superman, Batman, Spiderman, Hulk, dan Ironman yang menjadi favoritku.

Bahkan waktu kecil aku pernah bercita-cita menjadi Ironman, menggunakan baju besi layaknya Tony Stark, terbang bebas dan menyelamatkan orang-orang dari bahaya.

Dulu aku sering merengek meminta Bapak untuk membelikanku Action Figure dari beberapa super hero yang kusebut tadi, saat memintanya aku tak pernah memikirkan bagaimana kondisi keuangan Bapak, apakah Bapak punya uang atau tidak, aku tak pernah memikirkan hal seperti itu, betapa egoisnya aku sebagai anak, tapi Bapak tak pernah sekalipun keberatan dengan permintaanku itu, Ia selalu mengiyakan, sambil tersenyum berkata "Iya, nanti Bapak belikan".

Suatu malam sebelum tidur, Bapak masuk ke kamarku dan duduk di samping ranjangku, lalu kita mengobrol sebentar.
"nak, di antara semua pahlawan itu, yang mana yang kau istimewakan?" tanya Bapak sambil menunjuk ke arah barisan Action Figure yang kupajang di lemariku.
Lalu aku menunjuk Ironman.
Dan aku balik bertanya kepada Bapak.
"Kalau Bapak, suka yang mana?"
Bapak menggeleng sambil tersenyum.
"Pahlawan Bapak tidak ada di barisan Action Figure-mu itu".
"Lalu, pahlawan Bapak ada di mana?" tanyaku.
Bapak hanya tersenyum,
"Nanti jika kau sudah tumbuh dewasa, kau akan tahu di mana Pahlawan Bapak berada." Lalu Ia mengecup dahiku dan mengucapkan selamat tidur sambil berjalan keluar dari kamarku.

Berhari-hari aku memikirkan di mana keberadaan pahlawan Bapak, tapi tetap saja aku tidak tahu. Bahkan aku sampai menanyakan pada Ibu, tapi Ibu hanya tersenyum tanpa menjawab keingintahuanku.

Belasan tahun berlalu hingga aku beranjak dewasa.

Dan benar kata Bapak, akhirnya aku tahu siapa pahlawan yang diistimewakan Bapak dan di mana keberadaannya, aku pun menjadi mengerti arti pahlawan yang sesungguhnya.

Sebab, "seorang Bapak, akan selalu menjadi Pahlawan yang diistimewakan di hati masing-masing anaknya, tanpa topeng, tanpa sayap, dan tanpa baju besi."

Terimakasih, Bapak.


Sumbawa, 2015

Kepada Tuan Sapardi Djoko Damono

Aku sering membayangkan, pada suatu malam di sebuah beranda, aku duduk semeja dengan Tuan, lalu di depan kita ada teko berukuran sedang berisi hujan bulan juni, lengkap dengan sepasang cangkir jingga bermotif bunga rumput pilihan dewata.

Pada saat itu, aku melihat Tuan masih memakai sepasang sepatu tua, kaos oblong hitam bertuliskan 'Yang Fana adalah Waktu, Kita Abadi', dan sebuah newsboy cap berwarna abu-abu yang sepertinya sangat nyaman di kepala Tuan.

Aku menyeruput hujan bulan juni beberapa kali, ternyata rasanya amat dalam dan sunyi, lalu aku bertanya, "Tuan, mana di antara karya-karyamu yang paling bagus?", dan Tuan menjawab, "Karyaku yang paling bagus adalah yang belum pernah kuciptakan".

Aku begitu kagum pada karya-karya Tuan, yang telah tercipta pun yang belum tercipta.
Aku begitu kagum pada Tuan, di dalam berkarya, Tuan tak pernah tua, malah mengabadi dalam buku-buku dan puisi, atau mungkinkah tulang dan kulit Tuan telah sekian lama Tuan gantikan dengan sajak-sajak? Sebab sajak tak pernah mati.

Tuan, meski aku begitu mengidolakanmu, aku tak pernah ingin sepertimu, sama sekali tak ingin, sebab bagiku, Tuan hanya selalu ada satu, di buku, di puisi, pun di hati.

Mungkin aku akan lebih ingin menjadi seperti Si Joko , yang amat mengagumimu lalu akhirnya bisa bertemu langsung denganmu. Aku ingin seperti itu. Amat ingin.

Semoga nanti, aku bisa bertemu Tuan, bukan di buku atau puisi, juga bukan di mimpi, tapi di sebuah meja dengan dua cangkir kopi.

dan terimakasih Tuan, atas segala karya-karyamu.

 

Sumbawa, 2015
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
aku (masih) manusia dan aku cadel