Ketika kau menangis di kejauhan
Dadaku di kota ini
Tiba-tiba akan terasa hangat
Sesaat kemudian jatuh hujan
Yang membasahi apa saja:
Pohon-pohon, rerumputan, jemuran, lampu-lampu dan bangku taman, pengemis yang tidak punya tempat pulang, seorang di jalan yang kehilangan payung, juga sepanjang garis ingatanku tentang kau.
Lalu -di kejauhan- kau bertanya dalam kepalaku
Hujan atau kita, yang jatuh?
Hujan atau kita, yang basah?
Hujan atau kita, yang kenang?
Ataukah hujan yang diam-diam sedang menyamar jadi kita?
Tapi
Langit dan matamu saudari kandung
Yang telah sering menangis bersama
Sejak di dalam rahim Ibu
Kesedihan langit dan kesedihan matamu adalah satu
Duka langit dan duka matamu adalah batu
Yang beda hanya rasanya
Kesedihan langit terasa tawar
Meski (salah satunya) berasal dari lautan
Kesedihan matamu terasa asin
Meski telah kutaburi gula-gula
Karena aku bukan burung
Yang pandai menghibur kesedihan langit
Maka kupilih untuk mencintai matamu saja
Tentu aku juga mencintai seluruh kesedihan di dalamnya
Jangan cemas
Sebab pundakku pohon oak
Jangan takut untuk menangis
Sebab 'kan kutadah dukamu hingga dua ratus tahun lagi
dan lagi
Sumbawa, 2016

0 komentar:
Posting Komentar