Sejak kau tak di sini, aku tak lagi ada di mana-mana.
Kota ini jadi asing bagi kepalaku.
Aku tersesat, kehilangan jalan pulang, atau memang sejak awal semua jalan menuju sebuah kehilangan.
Jauh..Jauh..
Jauh aku dari debar dada sendiri.
Rindu..Rindu..
Rindu aku pada kau dalam diri.
Sejak kau tak di sini, aku tak lagi ada di mana-mana.
Mencintaimu, aku sudah habis.
Satu-satunya kini yang tersisa dariku hanya kau.
Suatu malam hujan turun di kota ini, juga di halaman kepalaku.
Menjatuhkan sepasang mata, lengan, tengkuk, dada dan juga punggungmu.
Lalu aku ingin bisa tidur panjang dengan kau dalam kepalaku.
Namun aku juga asing dari kamar dan ranjang sendiri.
Sejak kau tak di sini, aku tak lagi ada di mana-mana.
Langit menyimpan erat-erat kuncir rambut dan lesung pipimu.
Angin menyembunyikan bunyi-bunyi dan bahasa yang keluar dari mulutmu.
Biru..Biru..
Biru kesedihan lebam di dadaku.
Haru..Haru..
Haru kepedihan lepas di mataku.
Sejak kau tak di sini..
Sumbawa, 2016

0 komentar:
Posting Komentar