Senin, 19 September 2016

Sebuah Pengingat Waktu Dari Seseorang Yang Tak Lekang Oleh Waktu

Musim berganti musim
Panas jadi dingin
Daun-daun tanggal dari ranting
Tanggal-tanggal gugur di antara dedaun kering

Dan kau, masih saja utuh sebagai ingatan
Entah kenapa, kau seperti memiliki ruang tersendiri di kepalaku
Ruang yang tak pernah bisa disentuh oleh jemari-jemari waktu

Apa kau masih ingat?
Sebuah jam tangan
Yang kaubelikan untukku beberapa hari setelah kau menanyakan apa warna kesukaanku
Atau tepatnya, sehari sebelum kepergianmu.

Untuk sekadar kau tahu
Aku masih sering memakainya, meski fungsinya tak lagi sama
Jam tangan ini tak lagi mengingatkanku dengan waktu
Sebab tiap waktu ia hanya mengingatkanku akan kamu

Namun detak detiknya masih sama
Masih dengan begitu jelas menyimpan kepergianmu
Sedang di antara angka-angka, namamu kian jauh

Dan kini, betapa jauh jarak kotamu ke kotaku
Ada jutaan detik yang berdetak di antaranya
Betapa pendek lengan-lenganku untuk bisa menjangkau punggungmu
Ada ruang kosong dengan angka-angka yang membentang di keduanya

Tapi, kekasih
Atas nama nadiku jam tangan ini terus berdetak
Jarum-jarumnya yakin
Entah pada detak detik ke entah
Di antara angka-angka yang kurang, pas, atau mungkin lewat
Ia yakin, salah satu dari jarumnya akan kembali menemukanmu (lagi)

 Sumbawa, 2016

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
aku (masih) manusia dan aku cadel