Rabu, 09 November 2016

Menulis Puisi Tentang Kau

Malam hari, di jam-jam tidur. Aku sering diganggu oleh perasaan-perasaan untuk menulis sebuah puisi tentang kau. Padahal aku sudah berusaha ngantuk, tapi ternyata mataku mengkhianati ranjang sendiri.

Aku pun menyalakan kembali lampu kamar. Duduk di tepi ranjang, dan memutuskan untuk menulis beberapa bait puisi tentang kau.

Aku mulai dengan kalimat yang paling sering terbayang saat aku membayangkan kau:
"Aku mencintaimu, dan kita akan pulang."
Begitulah kira-kira bunyinya di kepalaku.

Setelah kutulis kalimat itu, aku akan segera kehilangan kata-kata.

Ketika kata kutemukan kembali, aku kehilangan tanda baca.

Ketika kutemukan kembali tanda baca, aku kehilangan kertas dan pena.

Kertas dan pena kembali kutemukan, aku berhenti. Aku takut, akhirnya aku juga akan kehilangan kau.

Tapi,
Aku mencintaimu, dan kita akan pulang.

Sumbawa, 2016

Kamis, 03 November 2016

Matamu

Ketika kau menangis di kejauhan
Dadaku di kota ini
Tiba-tiba akan terasa hangat
Sesaat kemudian jatuh hujan
Yang membasahi apa saja:
Pohon-pohon, rerumputan, jemuran, lampu-lampu dan bangku taman, pengemis yang tidak punya tempat pulang, seorang di jalan yang kehilangan payung, juga sepanjang garis ingatanku tentang kau.

Lalu -di kejauhan- kau bertanya dalam kepalaku
   Hujan atau kita, yang jatuh?
   Hujan atau kita, yang basah?
   Hujan atau kita, yang kenang?
Ataukah hujan yang diam-diam sedang menyamar jadi kita?

Tapi
Langit dan matamu saudari kandung
Yang telah sering menangis bersama
Sejak di dalam rahim Ibu
Kesedihan langit dan kesedihan matamu adalah satu
Duka langit dan duka matamu adalah batu
Yang beda hanya rasanya
Kesedihan langit terasa tawar
Meski (salah satunya) berasal dari lautan
Kesedihan matamu terasa asin
Meski telah kutaburi gula-gula

Karena aku bukan burung
Yang pandai menghibur kesedihan langit
Maka kupilih untuk mencintai matamu saja
Tentu aku juga mencintai seluruh kesedihan di dalamnya
Jangan cemas
Sebab pundakku pohon oak
Jangan takut untuk menangis
Sebab 'kan kutadah dukamu hingga dua ratus tahun lagi
   dan lagi

Sumbawa, 2016

Rabu, 02 November 2016

Di Dalam Diriku

Di dalam kepalaku
Ada kolam ikan
Tempat waktu meniupkanmu
Sebagai daun jambu
Yang tanggal tiba-tiba

Di dalam mataku
Ada jendela kamar
Tempat rindu menyelinapkanmu
Sebagai hangat fajar
Yang menyentuh ujung-ujung selimut

Di dalam dadaku
Ada cermin genggam
Tempat masa tua menyimpanmu
Sebagai sepasang tangan
Yang menggenggam kerentaanku

Di dalam diriku
Ada kau
Tempat cinta menjatuhkanku
Sebagai aku
Yang tanpa batas waktu


Sumbawa, 2016

Kawan-kawan yang Tidak Lebih Banyak dari Hitungan Jari

Dulu waktu sekolah
Aku tidak punya banyak kawan
Ada, hanya beberapa
Tapi
Meski jumlah mereka tidak lebih banyak dari hitungan jari
Mereka tidak pernah kurang untukku
Selalu buat aku merasa cukup
Dengan segala kesederhanaan
Dan segila keleluconan

Ketika jam kosong
Atau istirahat
Kami sering menyusuri
Lorong-lorong kelas yang sepi dan sempit
Untuk akhirnya sampai ke perpustakaan
Melepas sepasang sepatu
Lalu mengisi daftar pengunjung
Satu per satu
Duduk di dekat jendela
Yang menghadap langsung ke sebuah kotak pasir
Dan kami mulai membaca satu sama lain
Halaman per halaman
Dari tubuh masing-masing
Ketika bel masuk berbunyi
Kami memberi penanda halaman
Di kening sendiri
Lalu memakai sepatu
Kembali ke kelas

Suatu saat
Aku tiba-tiba jatuh sakit
Sakit yang membuat aku tak bisa ke sekolah berhari-hari
Lalu kawan-kawanku yang tidak lebih banyak dari hitungan jari ini
Datang ke rumah
Hendak menjengukku
Mereka datang dengan tangan kosong
Tapi mulut mereka menggembung
Oleh doa
Satu per satu
Doa itu mereka kecupkan
Ke kening, sepasang lengan, dada, punggung, dan di ke dua tulang keringku
Yang terbaring lemah di ranjang
Setelah itu keadaanku pun berangsur membaik
Hingga pulih
Dan sehat kembali

Esokan harinya
Aku bisa kembali ke sekolah
Seperti biasa
Saat jam istirahat
Aku menyusuri lorong-lorong itu
Melepas sepatu
Mengisi daftar pengunjung
Duduk di dekat jendela
Dan mulai membaca
Ada banyak judul-judul baru
Dalam diriku

Sumbawa, 2016

Senin, 31 Oktober 2016

Pulang

Sejak aku mencintaimu,
semua jalan dan pintu kini menyimpan
sepasang lengan dan dadamu.
Seolah tidak ada jalan pulang,
yang tidak menuju pelukanmu.

Sampai waktu ini,
di antara kau dan aku
pulang masih menjadi kata paling romantis yang kita punya.

Kau dan aku,
kita sama-sama suka pulang.

Pulang yang menyimpan kita,
dari bencana-bencana di luar sana.
Pulang yang menyelamatkan kita,
dari jarak yang tiap waktu kian melar.
Pulang yang memulangkan kita,
dari apa-apa yang pergi.

Sejak aku mencintaimu,
aku selalu merasa sedang berdiri di depan pintu.
Yang gagangnya,
bulat mungil serupa bibirmu.
Ketika dadaku berteriak "aku pulang"
Pintu itu langsung berubah,
menjadi kau seutuhnya.

Aku telah tiba di rumah,
sejak aku mencintaimu.

Sumbawa, 2016

Minggu, 30 Oktober 2016

Tentang Sebuah Pagi

Sebuah pagi,
tak 'kan pernah mengeluhkan tentang kau yang telat bangun, tentang iler yang membentuk pola acak di bantalmu, seprai dan selimut yang tidak kaurapikan, atau tentang jendela kamar yang lupa kaukunci semalam.

Sebuah pagi,
tak 'kan pernah mempermasalahkan tentang jam tidurmu, buruk atau indahnya mimpimu, tentang dring alarm yang hampir bosan mengulang, atau tentang igauan-igauanmu tentang seseorang.

Sebuah pagi,
selalu bisa menerima bangunmu, bagaimanapun cara kaubangun menerimanya.

Sebuah pagi,
selalu bisa mengakrabkan kau dengan segelas kopimu, mendekatkan kau pada doa kekasihmu.

Itulah kenapa,
aku tak pernah ingin punya jeda
untuk bisa sejenak berhenti dari mencintaimu.

Sumbawa, 2016

Kita Jauh dan Asing

Kita telah menjadi begitu asing,
seperti dua sisi mata koin yang dipisahkan diri mereka masing-masing.
Kita telah menjadi begitu jauh,
seperti daun-daun jambu dan kolam ikan yang dibatasi jendela kamarmu.

Dalam tubuh yang masih sama,
aku dan kau telah menjadi orang lain.
Aku berusaha mengenalimu,
dari kesedihan yang ada di mataku.
Kau berusaha tahu aku,
dari luka-luka yang ada di dadamu.

Dan tiba-tiba,
kita merasa pernah ada,
ada untuk merasakan sebuah kehilangan.

Sumbawa, 2016

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
aku (masih) manusia dan aku cadel