Senin, 31 Oktober 2016

Pulang

Sejak aku mencintaimu,
semua jalan dan pintu kini menyimpan
sepasang lengan dan dadamu.
Seolah tidak ada jalan pulang,
yang tidak menuju pelukanmu.

Sampai waktu ini,
di antara kau dan aku
pulang masih menjadi kata paling romantis yang kita punya.

Kau dan aku,
kita sama-sama suka pulang.

Pulang yang menyimpan kita,
dari bencana-bencana di luar sana.
Pulang yang menyelamatkan kita,
dari jarak yang tiap waktu kian melar.
Pulang yang memulangkan kita,
dari apa-apa yang pergi.

Sejak aku mencintaimu,
aku selalu merasa sedang berdiri di depan pintu.
Yang gagangnya,
bulat mungil serupa bibirmu.
Ketika dadaku berteriak "aku pulang"
Pintu itu langsung berubah,
menjadi kau seutuhnya.

Aku telah tiba di rumah,
sejak aku mencintaimu.

Sumbawa, 2016

Minggu, 30 Oktober 2016

Tentang Sebuah Pagi

Sebuah pagi,
tak 'kan pernah mengeluhkan tentang kau yang telat bangun, tentang iler yang membentuk pola acak di bantalmu, seprai dan selimut yang tidak kaurapikan, atau tentang jendela kamar yang lupa kaukunci semalam.

Sebuah pagi,
tak 'kan pernah mempermasalahkan tentang jam tidurmu, buruk atau indahnya mimpimu, tentang dring alarm yang hampir bosan mengulang, atau tentang igauan-igauanmu tentang seseorang.

Sebuah pagi,
selalu bisa menerima bangunmu, bagaimanapun cara kaubangun menerimanya.

Sebuah pagi,
selalu bisa mengakrabkan kau dengan segelas kopimu, mendekatkan kau pada doa kekasihmu.

Itulah kenapa,
aku tak pernah ingin punya jeda
untuk bisa sejenak berhenti dari mencintaimu.

Sumbawa, 2016

Kita Jauh dan Asing

Kita telah menjadi begitu asing,
seperti dua sisi mata koin yang dipisahkan diri mereka masing-masing.
Kita telah menjadi begitu jauh,
seperti daun-daun jambu dan kolam ikan yang dibatasi jendela kamarmu.

Dalam tubuh yang masih sama,
aku dan kau telah menjadi orang lain.
Aku berusaha mengenalimu,
dari kesedihan yang ada di mataku.
Kau berusaha tahu aku,
dari luka-luka yang ada di dadamu.

Dan tiba-tiba,
kita merasa pernah ada,
ada untuk merasakan sebuah kehilangan.

Sumbawa, 2016

Sabtu, 29 Oktober 2016

Aku Menyaksikan Dari Balik Jendela

Aku menyaksikan dari balik jendela.
Rintik demi rintik hujan yang jatuh di kotaku.
Terlalu banyak menceritakan kesedihan.
Terlalu banyak,
hingga seluruh daun di pohon rindang itu tak ada satu pun yang tak basah.

Itu kenapa,
cintaku tak ingin lebih tinggi dari payung di atas kepalamu saat hujan.
Ia takut diserap awan,
lalu jatuh menjadi rintik-rintik hujan yang menceritakan kesedihan kita pada kota yang disaksikan seseorang dari balik jendela.

Dan ketika hujan selesai lalu payung kau tutup,
cintaku akan sejajar dengan keningmu.
Menjaganya,
agar tak kehilangan kecup.

Sumbawa, 2016

Jumat, 28 Oktober 2016

Saat Aku Menulis Ini

Apa kabar?
Saat aku menulis ini,
di kotaku sedang hujan, tapi tidak tahu kalau di kotamu.
Di kepalaku sedang rindu, tapi tidak tahu kalau di kepalamu.
Yang sama-sama kita tahu, aku mencintaimu.

Sehat?
Saat aku menulis ini,
aku sedang mencemaskan keningmu.
Karena cuaca sedang tidak tentu, berubah-ubah seperti perasaan di dadamu, waktu itu.
Semoga kau tidak tiba-tiba jatuh demam.
Karena aku tidak ingin ada hangat lain yang menjalar di tubuhmu selain hangat lengan-lenganku.

Bagaimana harimu?
Saat aku menulis ini,
aku sedang mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku tidak merindukanmu.
Jarak sebenarnya tidak pernah ada.
Yang ada hanya rindu-rindu yang dibalut kecemasan.

Dan kenapa aku terus merindukanmu?
Agar kelak,
aku sampai padamu.

Sumbawa, 2016

Kamis, 27 Oktober 2016

Sejak Kau Tak Di Sini, Aku Tak Lagi Ada Di Mana-Mana

Sejak kau tak di sini, aku tak lagi ada di mana-mana.
Kota ini jadi asing bagi kepalaku.
Aku tersesat, kehilangan jalan pulang, atau memang sejak awal semua jalan menuju sebuah kehilangan.

Jauh..Jauh..
Jauh aku dari debar dada sendiri.
Rindu..Rindu..
Rindu aku pada kau dalam diri.

Sejak kau tak di sini, aku tak lagi ada di mana-mana.
Mencintaimu, aku sudah habis.
Satu-satunya kini yang tersisa dariku hanya kau.

Suatu malam hujan turun di kota ini, juga di halaman kepalaku.
Menjatuhkan sepasang mata, lengan, tengkuk, dada dan juga punggungmu.
Lalu aku ingin bisa tidur panjang dengan kau dalam kepalaku.
Namun aku juga asing dari kamar dan ranjang sendiri.

Sejak kau tak di sini, aku tak lagi ada di mana-mana.
Langit menyimpan erat-erat kuncir rambut dan lesung pipimu.
Angin menyembunyikan bunyi-bunyi dan bahasa yang keluar dari mulutmu.

Biru..Biru..
Biru kesedihan lebam di dadaku.
Haru..Haru..
Haru kepedihan lepas di mataku.

Sejak kau tak di sini..

Sumbawa, 2016

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
aku (masih) manusia dan aku cadel